Jumat, Desember 11, 2009

Indahnya Jual Beli dengan Allah SWT

Cerah sekali hari ini, Alhamdulillah telah Kau berikan kesempatan kepadaku untuk bernafas dan hidup kembali. Semoga menjadikan diri ini termasuk manusia amanah terhadap waktu.

Masih teringat materi kajian di cabang ahad kemarin, bahwa setiap manusia itu memiliki kewajiban berjual-beli, ya berjual beli dengan Allah SWT. Maka kita harus sadar untuk melakukannya dengan semaksimalnya. Karena bagi setiap manusia pastilah menginginkan surga, dan apakah Allah akan memberikan surga secara cuma-cuma? Oh no..Allah Maha Adil, Beliau telah berikan jalan-jalan petunjuk kepada yang mau menempuhnya. Sebaliknya bagi yang tidak mau maka tidak akan pernah bertemu di tempat yang sama. Surga dan Neraka.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah : 111)

Subhanallahu, Indah sekali. Ternyata selama ini kita sedang jual beli dengan Allah SWT. Yang kita Jual kepada Allah SWT adalah Diri Kita dan Harta Kita, dibeli dengan Surganya Allah SWT. Sesungguhnya Syurga tidak cukup dibuka dengan banyaknya amal kita, masih membutuhkan rahmat dan ridho Allah SWT .

Sholat kita, suatu amalan yang sudah sewajarnya dilakukan sebagai kewajiban manusia. Nilai plusnya adalah lakukanlah dengan khusyu sehingga akan memberikan sinar kepada kehidupan keseharian. Ingat mendirikan itu tidak hanya mengerjakan saja. Dan itulah proses jual beli dengan Allah swt.

Malu (untuk bermaksiat kepada Allah SWT) juga merupakan jual beli, mencari nafkah yang Halal pun termasuk jual beli. Harta juga kita jual dengan cara zakat, infaq, shadaqoh, ilmu dan sebagainya.

Mencari ilmu (ngaji) adalah proses jihad fisabilillah. Menjual segala pikiran dan tenaga untuk Allah SWT. Dengan tujuan kita menjadi kaya amal dengan ilmu, bukan reka-reka atau bid’ah.

Bahkan cuma menyambut saudara muslim dengan senyum pun kita sedang ber Jual-beli dengan Allah SWT. Menyingkirkan duri dari jalan nya pun kita sedang berjual-beli. bahkan lagi ketika kita mengucapkan kalimat tahlil,tasbih,tahmid dan takbir pun menjadi shadaqoh kita, jual beli juga khan kepada Allah SWT dalam rangka mendapatkan Surganya Allah Azza wa Jalla.

Namun Allah SWT memberi syarat jual beli tersebut, yaitu Ikhlas dan Benar (sesuai syar’i). Jadi syarat ini lah yang menjadi diterima atau tidaknya suatu jual beli ( amalan / ibadah ). ke Ikhlasan juga sangat berhubungan dengan niatnya, karena salah niat bisa-bisa masuk katergori sombong, riya, sum’ah dsb.

Benar berarti amalan yang dilakukan adalah berdasar. Bukan katanya-katanya, bukan angan-angan, mengurangi dan melebihkan sesuai perasaan dan tujuan. Nah, untuk hal yang satu ini maka kita harus belajar, ngaji menuntut ilmu. Tanpa itu, non sense amal kita bias lurus.

Dengan Ikhlas dan syar’i secara otomatis akan menumbuhkan kesungguhan (mujahadah). Karena telah merasakan lezatnya berjalan di atas petunjuk Allah SWT. Akan menjadi malas atau semaunya, jika kelezatan tidak dirasakan. Entah kurang ikhlas atau tidak syar’I yang menjadi penyebabnya. Solusinya adalah improve, perbaiki diri dengan merenung dan menerima nasehat dengan hati lapang. Terus menerus sampai kapanpun jua.

Terakhir adalah lakukan proses jual beli tersebut dengan berjamaah. Berkumpul dengan orang-orang yang bertujuan sama. Sehingga hasilnya akan lebih kuat dirasakan dan halangan sebesar apapun bias dilalui karena adanya persaudaraan yang riil. Bukan sendiri-sendiri, tidak diatur dan tidak bersatu.

Maka tepatlah kalau ayat itu ditutup dengan “….Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. “

Kemenangan yang besar karena karena berjual beli dengan Ikhlas dan benar.

Sebelum terlambat!

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” (QS. Ibrahim : 14).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar